Vektor vs Bermain Kelereng (Tutup Botol)

Spread the love

Kali ini cerita guru akan berbagi pengalaman belajar materi vektor melalui aktivitas bermain kelereng. Ada yang pernah melakukan??? Kalau ada, mari ikut berbagi…..

Nah, siapa yang pernah bermain kelereng??? Pasti banyak anak murid kita di kelas familiar dengan permainan ini. Bermain kelereng sesungguhnya menerapkan konsep vektor di dalamnya. Kali ini, kelereng diganti dengan tutup botol, karena mudah ditemukan di lingkungan sekolah kami, dan secara tidak langsung anak-anak memanfaatkan sampah tutup botol. Jadi lebih ekonomis kan? Tidak perlu keluar uang untuk beli kelereng.

Sesuai perencanaan yang telah dibuat, kegiatan pembelajaran saat itu dimulai dengan pembukaan, inti, dan penutup. Adapun pembukaan: doa, absen kehadiran, menyampaikan tujuan pembelajaran yang dikaitkan dengan apersepsi berupa video tentang peta perjalanan untuk memunculkan ide awal tentang vektor.

Pada bagian inti: siswa diberi kesempatan untuk mengeksplore secara mandiri tentang konsep vektor melalui buku siswa, aplikasi pencarian (google dan youtube), lalu guru memberi beberapa pertanyaan untuk mengetahui pemahaman awal siswa setelah melakukan ekspolore konsep secara mandiri. Setelah beberapa penguatan dan pertanyaan tentang konsep vektor dan jenis-jenisnya, guru membagi kelompok siswa. Kelompok ini sebagai kelompok bermain. Satu kelompok tersiri atas 4 orang (sesuai kondisi kelas), setiap siswa dalam kelompok meletakkan tutup botol yang telah mereka siapkan, pada lantai kelas, kami memanfaatkan ubin kelas ukuran 2×2 sebagai arena bermain kelereng “tutup botol”.

Dari permainan ini, masing-masing kelompok dibekali 1 lembar LKPD untuk diisi sebagai pedoman pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab sesuai hasil permainan masing-masing. LKPD ini memuat tujuan pembelajaran, yaitu untuk mengetahui tentang vektor dan jenis-jenisnya.

Selesai permainan, setiap kelompok mengumpulkan hasil mereka. Waktu presentasi (menyesuaikan alokasi waktu pembelajaran) jika memungkinkan semua kelompok presentasi, namun jika tidak, perwakilan atau secara undi dipilih 2 kelompok untuk presentasi (sesuai kondisi).

Pada bagian penutup: guru mengajak siswa membuat kesimpulan dan refleksi pembelajaran. Hasil refleksi, ternyata cukup banyak siswa antusias dengan kegiatan ini. Dan yang laki-laki sangat bersemangat karena merasa bermain namun ada pembelajaran di dalamnya, dan secara umum mereka paham tentang konsep vektor yang dipelajari pada saat itu. Ini dibuktikan dari beberapa pertanyaan refleksi serta hasil presentasi dan tanya jawab.

Nah, kurang lebih inilah gambaran pembelajaran yang pernah dilakukan oleh cerita guru saat mengajarkan materi vektor. Kurang lebihnya mohon maaf, kami hanya ingin berbagi. Memang belum sempurna, karena kami pun masih belajar untuk bisa menemukan versi terbaik dalam mewujudkan merdeka belajar.

Untuk video singkat aktivitas ini bisa cek di https://www.instagram.com/p/Ca_avZrFXJz/

Terima kasih sudah berkenan membaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.